oleh

Ini Alasan Risma Tolak Tol Dalam Kota Surabaya

Negesindonesia.com – Perencanaan tol dalam kota Surabaya sayang sudahbdi gagas dan di tawarkan sejak tahun 2013 oleh pemerintah pusat dan sudah di atur dalam Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi di Jawa Timur tentan pembangunan jalan tol Waru (Aloha)-Wonokromo-Tanjung Perak .

Hingga saat ini mendapatkan penolakan dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini meskipun dirasa sangat efektif namun pemikiran panjang Walikota Surabaya tentang adanya tol dalam kota dirasa ada yang lebih baik dan lebih menghargai dan mengerti masyarakat Surabaya.

mengapa seperti itu , inilah inilah alasan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dikutip dari situs resmi pemerintah Surabaya.

1.Risma berpendapat, adanya tol tengah kota akan membuat Surabaya menjadi kota mahal. Dengan begitu, maka kota ini akan dipandang tinggi atau dinilai bagus dan megah. Kota yang mahal otomatis membuat biaya hidup di Surabaya bisa menjadi lebih mahal. Hal ini justru akan menyulitkan masyarakat yang masuk golongan ekonomi menengah bawah. “Kalau kota ini menjadi mahal, maka kota itu tidak akan menjadi efisien. Akhirnya yang mampu yang bertahan. Dampaknya, kota ini rentan sekali terhadap kericuhan,” jelas Risma. Selain itu, lanjut dia, kota mahal itu berdampak buruk dan dapat menimbulkan kesenjangan. Banyak efek domino saat Kota Surabaya masuk menjadi kota yang mahal. Baca juga: Contek Bali, Pemerintah Berencana Bangun Jalan Tol di Labuan Bajo NTT “Karena apa? Kesenjangan tadi, nanti akan memudahkan orang terjadi demo, amarah. Teorinya ada, aku tidak ngawur. Jadi semua itu harus dihitung,” ungkap dia.

Baca Juga :  Konferensi AMSI Wilayah 2 Jatim Usung Tema Baru

2. Picu kelangkaan air bersih Alasan kedua, Risma menjelaskan, apabila koridor tol tengah kota itu dibuat masif jalur Utara-Selatan, tentunya akan berdampak pada sulitnya warga mendapat air bersih. Pasalnya, jalur tol akan mengganggu sistem aliran air yang ada di Kota Surabaya. “Kalau ini dibangun maka akan sulit aliran-aliran air itu. Pasti ada konstruksi-konstruksi yang akan mempengaruhi hambatan-hambatan tadi,” papar dia. Apalagi, saat ini sudah banyak bangunan usaha di tengah kota. Tentunya adanya jalan tol tengah kota itu dapat mengganggu aktivitas perdagangan atau usaha di tengah kota. Maka dari itu, dia tak ingin ada pembangunan jalan tol di tengah kota itu. Baca juga: Ridwan Kamil Sindir Jasa Marga Karena Naikkan Tarif Tol Saat Pandemi “Kalau ini ada tiangnya (jalan tol) itu akan ganggu kalau dia dagang dan sebagainya. Akses juga terganggu, orang kadang pohon saja jadi masalah apalagi konstruksi-konstruksi masif itu. Karena itu kenapa aku menolak, jadi jangan sampai orang dagang itu terganggu,” tegas dia.

Baca Juga :  Konferensi AMSI Wilayah 2 Jatim Usung Tema Baru

3. Bukan solusi macet Dikutip dari Kontan, Risma menyatakan, Surabaya tak perlu jalan tol atau jalan bebas hambatan di tengah kota karena ada frontage road seperti di sepanjang Jalan Ahmad Yani. “Frontage road sangat bermanfaat untuk memecah kemacetan di jalan utama itu,” ujar Risma beberapa waktu lalu. Risma menambahkan, upaya lain untuk mengurangi penumpukan kendaraan adalah dengan membangun jalan lingkar luar di semua wilayah. Sedangkan untuk tengah kota, Risma lebih memilih mengembangkan transportasi massal. Ada term dan monorail yang akan digunakan. Baca juga: Tarif Tol Cipularang untuk Mobil Naik, Ini Rinciannya Di jalur utara-selatan menggunakan trem, sedangkan barat-timur dengan monorail. Kedua transportasi tersebut akan melengkapi moda transportasi publik yang sudah ada. Selain itu, Surabaya merupakan kota yang masyarakatnya lebih banyak mengandalkan kendaraan roda dua ketimbang mobil. Pola itu diprediksi masih akan berlaku sampai beberapa tahun ke depan. “Kenapa saya menolak jalan tol, karena saya melihat bahwa warga saya minimal 20 tahun ke depan ini naik motor. Misalkan dibuka tol, sepeda motor bisa masuk tapi kan bayar. Kalau dia untuk kerja saja bayar, padahal dia pendapatannya belum mesti. Kalau dia bayar kapan sejahteranya dia, itu harus dihitung,” ungkapnya”

Baca Juga :  Konferensi AMSI Wilayah 2 Jatim Usung Tema Baru

uraian alasan yang sangat mengacu pada masa depan kota Pahlawan Surabaya yang lebih baik dan mampu memahami bagaimana masyarakatnya nanti dan bagaimana membuat rakyat bisa hidup sejahterah dan bagaimana efektifnya mengurai kemacetan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed