oleh

Ampuh,Bakar Garam Menjelang Matahari Terbenam , Dipercaya Tangkal Wabah (Pagebluk)

Negesindonesia.com – Bentuk dari usaha masyarakat tanah jawa dalam menanggulangi covid-19 yang menurut data tingkat penularanya semakin tinggi dilakukan, masyarakat berusaha untuk terhidar dari wabah melalui membangkitkan lagi budaya yang memang sudah lama dilakukan oleh masyarakat jawa dahulu.

Budaya membakar garam laut (uya grosok) adalah budaya dinama masyarakat tanah jawa meyakini bahwa melalui cara seperti ini tuhan bisa menghindarkan dari marah bahaya seperti , wabah (pagebluk) yang saat ini di percaya sedang dialami oleh masyarakat seluruh indonesia.

Membakar garam (uya Grosok) diwaktu menjelang magbrib ini menurut sesorang tokoh masyarakat dusun Bongso Wetan Desa Pengalangan kec.Menganti Kab.Gresik Kastar (51) , menjelaskan bahwa metode pembakaran atau pengasapan menggunkan garam laut merupakan kearifan lokal yang digetuk tularkan (dikisahkan) oleh para pendahulu sesepuh kampung , budaya dari leluhur tanah jawa dalam meghadapi sebuah situasi alam yang tak bisa diprekdisikan (pagebluk) , banyaknya kematian yang tiba-tiba yang dibarengi oleh situasi saat ini yang sedang dialami negara indonesia yaitu berperang melawan virus Covid-19.

“iya ini adalah budaya leluhur masyarakat jawa yang diyakini bahwa dengan melalukan seperti itu tuhan bisa menghindarkan dari mara bahaya ataupun bencana seperti yang dialami oleh negara kita sekarang , meskipun sekarang masyarakat milenial belum mengenal atau belum mengetahui budaya yang seperti ini adalah budaya leluhur masyarakat tanah jawa umumnya “ujarnya.

Baca Juga :  Gubenur Jawa Timur Bebaskan denda Pajak Kendaraan Bermotor Dan Memberikan Diskon Mulai 12 Juni 2020

Dalam massa Pandemi ini, lanjut Kastar, selain mengangkat kearifan lokal juga harus tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah. Ia pun berharap, Pandemi akan segera berlalu dan negara indonesia menjadi tenang ayem tentrem gelah lipah lohjinawe.

“Menurut leluhur kita, bila ada wabah itu disuruh membakar garam di depan rumah, (dengan) harapan-nya wabah itu segera sirna,” ungkapnya pada Negesindonesia.com.

Baca Juga :  Kunjungi Korban Banjir Desa Dungus Cerme, Bupati Sambari Minta Maaf

Dan bila merujuk pada manfaat atau buah dari membangkitkan budaya kearifan lokal atau melakukan pembakaran garam laut menjelang matahari terbenam ,nyata ,terbukti dari beberapa hari yang lalu hingga sekarang angka kematian yang beruntun atau tak sewajarnya terjadi , seperti halnya yang sudah-sudah tiap hari di catat ada 3 sampai 4 orang yang meninggal dalam satu hari mulai berkurang.”tambahnya’.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed